Usai Karimata memainkan "Ananta" - Krakatau nan manis, Indra Lesmana dan Dwiki Dharmawan mencangklong keytarnya. Konser di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), pada Jumat malam, 31 Juli 2026, lalu itu pun memanas. "Why Not" - Karimata dibawakan bagai Weather Report atau Chick Corea Elektric Band, dua band fusion yang populer pada 1970-1980-an. Gitar serta keytar meraung bersama dentum bass dan drum. Khas musik fusion yang memadukan jazz, rock, funk, serta rhythm and blues (R & B). Tak lagi easy listening ala Bob James, Earl Klugh, dan lain-lain.
Konser Jazz Goes To Campus (JGTC) - The City Series ini memang beraroma legendary battle dua band fusion Indonesia yang terkenal pada 1980-an, Krakatau dan Karimata. Jelang akhir konser, Krakatau serta Karimata membawakan "Take Off" - Karimata. Empat keyboardis (Candra Darusman, Aminoto Kosin, Indra, dan Dwiki); dua gitaris (Kharisma serta Andre Dinuth); dua bassis (Barry Likumahuwa dan Indro Hardjodikoro); dua drumer Gilang Ramadhan serta Budy Haryono); dan tiupan Donny Koeswinarno tampil megah. Trie Utami pun menyanyi apik lagu "Sekitar Kita" - Krakatau. Liriknya mengajak kita berempati terhadap kesenjangan sosial di negeri ini.

Sebagai perkembangan musik blues, jazz lahir dari jeritan atau ekspresi budak-budak kulit hitam (Negro) di New Orleans pada 1895, yang merasa tertekan oleh rasisme di Amerika Serikat. Melalui piringan hitam, orang-orang Eropa lalu memperkenalkan musik tersebut ke Indonesia. American Jazz Band adalah band jazz pertama yang manggung di Batavia pada 1919. Setelah Indonesia merdeka, musik jazz mulai populer pada 1950-an. Di Surabaya, lahir grup Chen Brothers yang dibentuk peniup klarinet Teddy, pianis Bubi, drumer Nico, serta bassis Joppie. Band ini juga punya musisi tambahan, seperti Jack Lemmers yang kemudian dikenal sebagai Jack Lesmana, ayah jazzer berkelas dunia, Indra Lesmana.

Tanjidor barangkali merupakan musik tradisi Betawi yang paling dekat dengan jazz. Berasal dari bahasa Portugis, tangedor, yang berarti "seorang pemain alat musik, tanjidor didominasi instrumen tiup (brass section) yang terdiri dari klarinet, terompet, trombon, tuba, serta saksofon. Ensambel ini mirip dengan awal musik jazz yang berasal dari komunitas Afro-American di New Orleans, Amerika Serikat. Namun, sebagaimana Batavia --nama Jakarta semasa penjajahan Belanda-- yang merupakan kota melting pot di mana melebur berbagai budaya, ensambel tanjidor juga dilengkapi dengan instrumen perkusi, yakni dua tambur (snare drum dan bass drum) serta simbal kecil, biola Barat, dan rebab Cina (tehyan). Tanjidor kemungkinan tumbuh dari orkes-orkes yang dimiliki para tuan tanah di sekitar Batavia pada abad ke-18-19. Budak-budak dari seluruh Nusantara biasa memainkannya, untuk menghibur majikan-majikan mereka dengan lagu-lagu populer dan mars Eropa.
Berkat Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang mulai siaran dari Jakarta pada 1962, musik jazz kian dikenal luas. Jack Lesmana bersama Jopie Item antara lain yang mengisi acara musik jazz di TVRI pada pada 1960-an. Pada dekade 1970-an, bermunculan musisi jazz baru, semisal Ireng Maulana, Elfa Secioria, serta Benny Likumahuwa (ayah Barry Likumahuwa). Ireng yang kemudian menyelenggarakan perhelatan Jakarta International Jazz Festival (JakJazz) sejak 1988. Sejumlah musisi jazz dunia sempat tampil dalam JakJazz, seperti Lee Ritenour, Dave Valentine, Phil Perry, serta Peabo Bryson.
Pada dasawarsa 1980-an, marak berbagai band jazz fusion. Tiga di antaranya sangat populer, yakni Krakatau (Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Dwi Dharmawan, Pra Budi Dharma, Donny Suhendra, Trie Utami), Karimata (Candra Darusman, Aminoto Kosin, Erwin Gutawa, Denny TR, Uce Haryono), serta Bhaskara (Udin Zach, Luluk Purwanto, Bambang Nugroho, Didi Haju, Karim Suweileh, Dullah Suweileh, Djoko W.H., A.S. Mates, Vonny Sumlang). Lagu instrumental Bhaskara yang bernuansa musik tradisi Jakarta, "Betawi, lalu menjadi populer, setelah dipakai sebagai penutup Seputar Indonesia, program berita televisi swasta pertama di negeri ini, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI).

Hingga era Sri Hanuraga, Ardhito Pramono, Dira Sugandi, Kunto Aji, Syaharani, Raisa, serta Tulus kini, jazz terus mewarnai perjalanan musik Indonesia kontemporer. Khusus bagi Kota Jakarta, sumbangan dunia musik, termasuk jazz, sekitar 20% terhadap sektor ekonomi kreatif (ekraf). Berkat perkembangan teknologi, jazz pun diramu dengan berbagai jenis musik, dari rock, latin, folk, hingga etnik. Musik jazz genre fusion inilah yang sekarang menjamur, tak terkecuali di Jakarta. Kendati demikian, jazz mainstream sesekali tetap dimainkan, dari bebop sampai swing dalam format bigband.
Festival yang sudah masuk kalender tahunan musik jazz internasional, Java Jazz, pun masih terus berlangsung di Jakarta, sejak 2005 hingga sekarang. Terinspirasi dari North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda, pengusaha dan pecinta jazz, Peter Gontha, Java Jazz pernah memanggungkan musisi-musisi jazz kelas dunia, semisal Chick Corea, Herbie Hancock, George Benson, serta Pat Matheney.
Selain Java Jazz, salah satu event jazz penting tahunan yang masih diselenggarakan sampai sekarang adalah Jazz Goes To Campus (JGTC). Diinisiasi musisi jazz Candra Darusman semasih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) pada 1977, JGTC tahun depan akan berusia setengah abad. Karena itu, keyboardis band Karimata dan personil kelompok Chaseiro ini, menghelat pentas jazz berbagai genre, dari pop hingga mainstream, di TIM sejak 2026. Candra, yang dulu berguru musik jazz kepada mendiang Jack Lesmana di rumahnya, kawasan Tebet, Jakarta Selatan, mungkin merasa sudah waktunya JGTC kembali ke Jakarta jelang umurnya yang ke-50 tahun, setelah kampus UI pindah dari Jalan Salemba, Jakarta, ke Depok, Jawa Barat.
Apalagi TIM menjadi saksi bisu perjalanan musik jazz di tanah air. Di Teater Terbuka, TIM, misalnya, Indra Lesmana semasih kanak konser pertama kali bersama ayahnya, almarhum Jack Lesmana. Di sana pula, bersama bassis Mates, drumer Gilang Ramadan, gitaris Dewa Bujana, serta peniup saksofon mendiang Embong Raharjo yang tergabung dalam band Java Jazz, Indra pernah membawakan Crystal Sky, untuk mengenang ayahnya. Begitu pula Candra Darusman memainkan Goodbye Kiss bersama bandnya, Karimata, sebelum berangkat ke Jenewa, Swiss, sebagai wakil Indonesia dalam World Intellectual Property Organization (WIPO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengembangkan hak cipta.
JGTC edisi khusus Kota Jakarta ini merupakan salah satu tonggak perjalanan menuju peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027. Jakarta yang menuju Kota Global, salah satunya ditandai dengan pengalaman (experience) ekonomi kreatif yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kota yang dikenal dunia karena kekayaan ragam seninya, berkat ledakan kreatif budaya warganya. Tak heran bila dalam sambutannya sebelum konser ini di TIM Jumat malam lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap, JGTC - The City Series bisa digelar di lima wilayah tahun depan, dalam rangka lima abad Jakarta.

Sumber:
Sinopsis Kaset Musik Indonesia 5, Musik Betawi dan Sunda dari Pesisir Utara Jawa: Topeng Betawi, Tanjidor, Ajeng, Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), 1988.
Binus University, Perkembangan Musik Jazz di Indonesia, 2 April 2020 https://student-activity.binus.ac.id/paramabira/2020/04/perkembangan-musik-jazz-di-indonesia/.
Aryo Sanjaya, Mengalun Bersama Jazz di Hingar-Bingar Jakarta, 15 Mei 2022 https://www.kompasiana.com/muhamad36645/62809ab64b9a47271b1d9de3/sejarah-jazz-di-jakarta.
Penulis: Ramdan Malik
Foto: Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta