Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Sampoerna University menyelenggarakan International Symposium bertema Advancing Urban Sustainability. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, pada 22-24 September 2026, di Sampoerna Strategic Square. Simposium internasional ini diselenggarakan sebagai ruang strategis untuk merumuskan langkah konkret Jakarta dalam bertransisi menuju kota global yang cerdas, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Kepala Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, menegaskan, pendekatan kolaboratif penting dalam pembangunan Jakarta ke depan. "Dalam upaya Jakarta menuju kota global, menjawab tantangan perkotaan membutuhkan lebih dari sekadar evidence-based planning, tetapi juga kolaborasi lintas sektor dalam mengintegrasikan pengetahuan dan inovasi. International Symposium menjadi wadah untuk membangun koneksi, bertukar gagasan, serta melahirkan kolaborasi baru."
Pandangan senada disampaikan pimpinan Sampoerna University yang menekankan peran penting pertukaran gagasan global bagi perkembangan kota. "Inilah yang menjadikan International Symposium penting sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, menginspirasi kolaborasi, dan menghasilkan gagasan yang bermakna bagi masa depan Jakarta," ujar Rektor Sampoerna University, Wahdi Salasi April Yudhi; Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Sampoerna University, Farid Triawan, menambahkan, "Kolaborasi lintas sektor, pertukaran pengetahuan, dan pemanfaatan pengalaman global menjadi bagian penting untuk mendorong Jakarta menjadi kota yang semakin adaptif, berdaya saing, serta berkelanjutan."
Sesi diskusi pertama dimoderatori oleh Assistant Professor of Engineering at The University of Nottingham, Bagus Muljadi. Diskusi pleno ini membuka rangkaian simposium dengan membedah lanskap keberlanjutan perkotaan secara komprehensif, menghubungkan kerangka teoritis dengan praktik terbaik internasional, serta meletakkan fondasi berpikir yang kuat bagi seluruh peserta sebelum memasuki pembahasan teknis di setiap kelompok kerja.
Memasuki hari kedua, simposium terbagi ke dalam tiga ruang diskusi tematik yang membahas tantangan spesifik perkotaan secara mendalam. Di Ruang 1 dengan fokus Infrastruktur, diskusi berpusat pada integrasi transportasi publik, pendanaan hijau, serta penerapan teknologi kecerdasan buatan dan Internet of Things (IoT) untuk efisiensi energi dan pengelolaan sampah. Pembahasan ini bertujuan menciptakan sistem mobilitas terintegrasi, menekan emisi karbon, serta meningkatkan daya tarik investasi infrastruktur berkelas dunia bagi Jakarta.
Sementara itu, di Ruang 2 yang mengusung tema Lingkungan memfokuskan pembahasan pada penanganan isu ekologis, seperti transparansi data emisi udara, tata kelola sampah dari hulu ke hilir berbasis ekonomi sirkular, ketahanan air dan pesisir, serta skema pembiayaan proyek ramah lingkungan. Langkah ini diharapkan dapat mewujudkan kualitas udara dan air yang lebih baik, mengurangi risiko banjir, serta mendorong efisiensi industri menuju target emisi nol bersih.
Di Ruang 3 yang membahas Sosial dan Ekonomi, perhatian diarahkan pada penguatan iklim investasi, integrasi Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) ke dalam rantai pasok hijau, keamanan data dan kepercayan digital, serta penguatan layanan kesehatan dan modal manusia. Pembahasan ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, meningkatkan daya saing tenaga kerja, serta mengangkat kualitas hidup masyarakat Jakarta. Rangkaian diskusi diawali dengan paparan para ahli, dilanjutkan sesi Diskusi Kelompok Terarah antarpeserta, hingga perumusan rekomendasi dalam Policy Marketplace yang kemudian dirangkum oleh moderator.

