Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Focus Group Disccussion (FGD) bertema Transforming Jakarta Markets: Leveraging Pasar as Urban Catalysts for Inclusive and Sustainable City Development, di Ruang Pola, Balai Kota, pada 23 Februari 2026. Dalam laporannya, Kepala Bappeda, Atika Nur Rahmania, menandaskan, pasar bukan sekadar ruang transaksi ekonomi, tapi juga simpul kehidupan kota, ruang interaksi sosial, ruang aktualisasi budaya, sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Berkat transformasi melalui program digitalisasi pasar di Jakarta, ungkapnya, 6,1 juta merchant telah menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), hingga akhir 2025. Hal itu menunjukkan, pasar tradisional berkapasitas besar buat beradaptasi dalam ekosistem ekonomi digital.
Namun, transformasi pasar tentu tidak berhenti pada digitalisasi. "Kita perlu melangkah lebih jauh melalui pendekatan placemaking, menjadikan pasar sebagai urban catalyst, ruang publik aktif yang menghidupkan kawasan, memperkuat identitas lokal, sekaligus menjadi destinasi budaya dan wisata. Beberapa inisiatif seperti penguatan identitas kawasan di Pasar Glodok, Pasar Baru, serta Pasar Santa menunjukkan, bagaimana pasar dapat berevolusi menjadi ruang kreatif yang relevan bagi generasi muda, tanpa kehilangan akar tradisionalnya" jelas Atika.
Ia menegaskan, revitalisasi pasar harus dilakukan secara komprehensif, dari penguatan identitas, peningkatan aksesibilitas transportasi dan infrastruktur dasar, penyediaan ruang yang inklusif bagi disabilitas serta lansia, penguatan literasi dan inklusi keuangan, hingga aktivasi kegiatan komunitas. Karena itu, FGD ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan pandangan, menggali isu mendasar, serta merumuskan arah transformasi pasar yang terintegrasi dengan agenda ekonomi, sosial, lingkungan, dan pengembangan kota.
"Kami berharap, diskusi ini tidak berhenti pada gagasan, tetapi menghasilkan agenda strategis yang operasional, termasuk identifikasi pasar prioritas dan penyusunan agenda transformasi lima tahun ke depan", tambah Atika.

Sebelum membuka diskusi kelompok terpumpun ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengemukakan, sekitar 2 juta atau 20% dari jumlah penduduk Jakarta mengunjungi 153 pasar setiap hari. Sedangkan kontribusi ekonominya berkisar Rp 150 triliun per tahun, dengan lebih 200.000 Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) yang terlibat.
Ia menyatakan, pasar di Jakarta harus berstandar global. "Berkaca dari berbagai kota dunia seperti Kyoto, Bangkok, Rotterdam, serta Singapura, pasar tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat budaya, ruang publik, dan destinasi wisata yang mampu menarik pengunjung lokal maupun mancanegara" tuturnya.
Pramono mengharapkan, pasar Jakarta ke depan dapat bertransformasi menjadi katalis ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus berperan strategis dalam mendorong Jakarta sebagai kota global. Karena itu, ia menjelaskan, FGD ini menjadi langkah awal yang penting dalam merumuskan arah transformasi pasar yang terintegrasi dengan agenda pembangunan, baik dari aspek ekonomi, sosial, lingkungan, maupun pengembangan kota.

Sementara itu, Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, mengungkapkan, 6 dari 31 elemen Kearney Global City Index dipengaruhi performa pasar di kota tersebut. Menurutnya, pasar dapat menjalankan berbagai fungsi, dari grosir/perdagangan seperti Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Tanah Abang, ritel/lingkungan semisal Pasar Minggu serta Pasar Kebayoran Lama, spesialisasi (contohnya pangan/tekstil) seperti Pasar Mayestik, sensorik/menawarkan pengalaman bagai Pasar Santa dan Pasar Blok M, pariwisata bak Pasar Baru, mixed use (dengan apartemen) misalnya Pasar Rumput.
Shirley memaparkan, Jakarta dapat mengacu kepada pasar-pasar terkemuka di kota-kota dunia, untuk memodernisasi pasarnya dan menciptakan nilai yang lebih tinggi. Contohnya Gwangjang Market di Seoul, Korea Selatan, yang merupakan pasar makanan terkenal seluas 42.000 meter persegi dengan lebih 5.600 toko, serta lebih 65.000 pengunjung sehari; Chatuchak Market di Bangkok, Thailand, yang merupakan pasar akhir pekan terbesar di dunia yang berakses transit, harga terjangkau, kulinernya terkenal, serta menarik sekitar 200.000 pengunjung per hari; atau Tsukiji Market di Tokyo yang terkenal sebagai Kota Makanan, dengan menawarkan akses langsung turis ke warisan kuliner Jepang.

Pengalaman menarik diceritakan mantan Menteri Perdagangan yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Pangestu. Ia membeberkan pelajaran dari pengembangan pasar rakyat percontohan oleh Kementerian Perdagangan pada 2010-2011. Baginya, pasar rakyat berfungsi strategis, yakni: berkontribusi terhadap ketahanan perekonomian bangsa, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan UMKM, indikator kestabilan harga dan inflasi nasional, Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta penguatan nilai sosial budaya Indonesia.
Walau demikian, lanjutnya, pasar rakyat menghadapi berbagai permasalahan seperti kotor, bau, jorok, tidak aman, kumuh, timbangan tak pas, barang kurang higienis, tidak nyaman, dan kalah bersaing dengan minimarket atau hipermarket. Karena itu, pasar mesti direvitalisasi, agar berfungsi optimal dan bermanfaat buat rakyat. Selain 95% dari 3.956 pasar yang disurvei waktu itu berumur lebih 25 tahun, hanya 400 pasar yang sudah memiliki pembukuan keuangan, dana pemeliharaan pasar minim, gang pasar sempit dan sesak karena dipenuhi dagangan, serta jalan di depan pasar macet.
Mari menambahkan, pasar bukan saja tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Perdagangan untuk revitalisasi; tetapi juga Kementerian Kesehatan buat pasar sehat; Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pasar ikan higienis; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata buat pasar wisata; Kementerian Lingkungan Hidup untuk pasar berseri serta ramah lingkungan; Kementerian UKM dan Koperasi buat revitalisasi koperasi pasar, Kementerian Pertanian untuk pasar ternak, Kementerian Dalam Negeri buat pengelolaan pasar desa, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk pasar perbatasan serta daerah tertinggal, Kementerian Pekerjaan Umum buat infrastruktur jalan, drainase kota, serta pengelolaan sampah kota; Kementerian Perhubungan untuk sarana transportasi dan terminal; Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) buat sarana air bersih; serta Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk sarana listrik.
Ia pun mengkritik program revitalisasi pasar yang masih terbatas pada aspek revitalisasi fisik, sehingga tak berdampak signifikan bagi pemangku kepentingan pasar. Sebab itu, perlu program revitalisasi pasar yang holistik dan komprehensif, baik fisik maupun nonfisik, untuk memberdayakan pelaku pasar.

Contohnya menjaga kestabilan harga dan meminimalkan disparitas harga bahan pokok, melalui perbaikan sarana distribusi perdagangan. Karena itu, perbaikan fisik pasar harus disertai pendidikan kilat (diklat) bagi pengelola dan pedagang, pemberdayaan pengelola serta pedagang selama tiga tahun berturut-turut, penciptaan akses pembiayaan bagi pedagang, dan bantuan revitalisasi alat Ukur, Takar, Timbang, serta Perlengkapannya (UTTP).

Dengan paparan berjudul "Transformasi Pasar Jaya Menuju Jakarta Kota Global Top 50", Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya, Agus Himawan, menutup sesi presentasi jelang FGD. Ia menuturkan peta jalan (roadmap) Pasar Jaya 2025-2029, yaitu: fondasi dan akselerasi digital pada 2025, dengan revitalisasi fisik, penguatan ketahanan pangan, serta digitalisasi massal; inovasi hijau dan efisiensi operasional pada 2026, melalui pengelolaan sampah mandiri serta pasar ramah lingkungan; integrasi hunian dan transportasi (Transit Oriented Development/TOD) pada 2027, lewat konsep TOD serta sertifikasi aman pangan; wisata dan budaya global pada 2028, dengan modernisasi pasar tematik, inkubasi UMKM ekspor, serta ekosistem inklusif; hub ekonomi dan global terpadu pada 2029, dengan pusat distribusi regional serta pasar 24 jam dan digital inklusi 2.0.

Contoh program Perumda Pasar Jaya antara lain membangun Pengolahan Sampah Mandiri di Pasar Induk Kramat Jati untuk mengolah sampah 150-200 ton per hari; bekerja sama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) yang disupervisi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta; penggunaan energi atap surya panel di Pasar Jatirawasari serta Pasar Kombongan; mengembangkan pasar tematik sebagai destinasi wisata seperti Pasar Tanah Abang, Pasar Rawa Bening, Pasar Santa, Pasar Mayestik, Pasar Blok M Square, dan Pasar Baru; serta lomba digitalisasi di 40 pasar pada 2025.
