Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Riset dan Inovasi Daerah menggelar Kick-off Penyusunan Voluntary Local Review (VLR) Jakarta 2026 di Ruang Pola Benyamin Sueb, Balai Kota DKI Jakarta, Selasa 07 April 2026.

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyusun laporan strategis yang mencerminkan komitmen Jakarta terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.
Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Andhika Ajie. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa SDGs bukan sekadar agenda administratif, melainkan fondasi utama pembangunan jangka panjang Jakarta. "Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, SDGs merupakan arah sekaligus landasan pembangunan jangka panjang. Setiap target mencerminkan upaya nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang", ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa VLR merupakan "bahasa global" yang digunakan kota-kota dunia untuk menunjukkan capaian pembangunan secara transparan, terukur, dan kredibel. Melalui VLR, Jakarta tidak hanya mendokumentasikan progres pembangunan berkelanjutan, tetapi juga menegaskan perannya dalam percakapan global sebagai kota yang serius dalam mencapai SDGs.
Dalam kesempatan yang sama, Endah Nugrahaning Suciastuti selaku Ketua Satuan Pelaksana Sosial dan Kependudukan Pusat Riset dan Inovasi Daerah memaparkan rencana penyusunan VLR 2026. Ia menjelaskan bahwa VLR merupakan instrumen strategis untuk menyelaraskan pembangunan daerah dengan agenda global, sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas tata kelola pemerintahan. "Penyusunan VLR Jakarta 2026 tidak hanya bertujuan untuk pelaporan, tetapi juga untuk memperdalam analisis capaian SDGs dan mendorong keterlibatan pemangku kepentingan secara lebih inklusif", jelasnya.

Saat ini, Jakarta tengah berada dalam fase transformasi menuju kota global di tengah berbagai tantangan kompleks, seperti urbanisasi yang pesat, ketimpangan sosial, dampak perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik. Dalam konteks tersebut, komitmen terhadap SDGs menjadi semakin krusial. Melanjutkan momentum VLR 2024 yang telah dipaparkan pada forum global, penyusunan VLR 2026 diharapkan dapat dilakukan secara lebih akuntabel, kredibel, dan berdampak. VLR juga tidak hanya dimaknai sebagai etalase capaian, tetapi sebagai instrumen untuk mengidentifikasi kesenjangan pembangunan secara jujur serta menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Di tingkat nasional, Jakarta telah menjadi salah satu daerah pelopor (first movers) dalam penyusunan VLR. Hal ini menunjukkan komitmen kuat untuk menjadi referensi dan benchmark bagi daerah lain di Indonesia. Sementara di tingkat global, kota-kota seperti New York, Helsinki, dan Tokyo telah memanfaatkan VLR sebagai alat strategis dalam memperkuat diplomasi kota (city diplomacy), membangun reputasi, serta meningkatkan daya saing. Jakarta pun didorong untuk mengambil peran yang sama, tidak hanya sebagai kota yang membangun, tetapi juga sebagai kota yang mampu menunjukkan kepemimpinan global.

Keberhasilan penyusunan VLR Jakarta sangat bergantung pada kontribusi aktif seluruh perangkat daerah sebagai pemilik data sekaligus pelaku pembangunan di lapangan. Namun demikian, transformasi menuju kota global yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Dibutuhkan kolaborasi kuat melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan media. Pendekatan ini diyakini mampu menghadirkan pembangunan yang lebih inklusif, partisipatif, serta inovatif, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan bersama terhadap arah pembangunan Jakarta.
Melalui kick off ini, rangkaian penyusunan VLR Jakarta 2026 secara resmi dimulai secara terstruktur, sistematis, dan terukur. Seluruh perangkat daerah diharapkan segera menindaklanjuti dengan menyiapkan data serta narasi program masing-masing, guna memastikan proses penyusunan berjalan efektif dan sesuai jadwal. Penyusunan VLR 2026 juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama, sekaligus mendorong Jakarta menjadi role model implementasi SDGs di tingkat kota, baik secara nasional maupun global.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi yang menghadirkan para pakar, antara lain Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto, Economist UNRCO Indonesia Diandra Pratami, Principal Advisor SDGs SSTC Phase II Project GIZ Indonesia Zulazmi, serta National Expert on SDGs Monitoring, Reporting & Data Management GIZ Winastwan Gora. Diskusi ini memberikan perspektif strategis dalam memperkuat kualitas penyusunan VLR Jakarta 2026 agar semakin komprehensif, berbasis data, dan relevan dengan dinamika global.