ADENANTERA DWICAKSONO
Pusat Kebijakan Publik dan Kepemerintahan, Institut Teknologi Bandung
ISNU PUTRA PRATAMA
Pusat Kebijakan Publik dan Kepemerintahan, Institut Teknologi Bandung
MH. NATEQ NOURI
Pusat Kebijakan Publik dan Kepemerintahan, Institut Teknologi Bandung
ADISSTY PUTRI SULISTIYANTO
Pusat Kebijakan Publik dan Kepemerintahan, Institut Teknologi Bandung
Keywords:
kota cerdas, CCTV, optimasi spasial, tata kelola kolaborasi
Abstract
Sebagai kota global dengan tingkat mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi,
Provinsi DKI Jakarta memerlukan sistem pengawasan kota berbasis CCTV yang
mampu mendukung keamanan publik, kelancaran mobilitas, serta respons cepat
terhadap risiko kebencanaan dan gangguan ketertiban. Dalam praktiknya,
pengembangan CCTV di Jakarta masih berlangsung secara parsial dan sektoral,
dikelola oleh berbagai aktor dengan standar teknis, model pengadaan, dan
mekanisme operasional yang berbeda-beda. Kondisi tersebut menyebabkan distribusi
kamera belum optimal, integrasi data terbatas, serta berpotensi menimbulkan
inefisiensi anggaran dan duplikasi investasi.
Makalah kebijakan ini disusun untuk merumuskan arah penguatan sistem CCTV
Jakarta secara terstruktur dan berkelanjutan melalui analisis kebutuhan, lokasi
strategis, model pengadaan, dan tata kelola kolaborasi. Analisis kebutuhan dan
penentuan lokasi difokuskan pada empat domain pemantauan utama, yaitu jaringan
lalu lintas strategis, ruang publik prioritas, infrastruktur pengendali banjir, serta
lingkungan permukiman pada tingkat RW berbasis risiko multi-hazard. Selanjutnya,
kajian mengevaluasi alternatif model pengadaan CCTV, yaitu pembelian dan sewa
atau layanan terkelola, dengan mempertimbangkan total biaya siklus hidup, risiko
pemeliharaan, fleksibilitas teknologi, dan keberlanjutan fiskal daerah.
Dari sisi metodologi, kajian ini mengombinasikan analisis spasial berbasis risiko,
model optimasi lokasi untuk memaksimalkan cakupan pemantauan, analisis finansial
jangka panjang, serta analisis tata kelola kolaboratif lintas pemangku kepentingan.
Temuan utama menunjukkan bahwa penguatan sistem CCTV membutuhkan
pergeseran dari pendekatan ad-hoc menuju rencana induk berbasis data, prinsip
value for money dalam pengadaan, serta tata kelola kolaborasi yang jelas antar
pemerintah daerah, kepolisian, operator transportasi, sektor swasta, dan masyarakat.
Dengan demikian, policy paper ini memberikan landasan kebijakan bagi
pengembangan sistem CCTV Jakarta yang terintegrasi, efisien, dan mendukung
aspirasi kota global yang aman dan tangguh.