Seorang lelaki Tionghoa berkuncir panjang asyik bercakap dengan pria bermisai yang juga berjuntai. Di belakangnya, duduk pria bule berkumis dan bertopi serta laki-laki Arab berjanggut dan bersorban. Litografi Cornelis Rappard koleksi Wereldmuseum Amsterdam ini menarik perhatian, begitu memasuki ruang pameran "Jauh di Mata Dekat di Kaki di Urban Knowledge Hub (UKH), Gedung Nyi Ageng Serang lantai 6, Jl. H.R. Rasuna Said No. 22, Kuningan, Jakarta Selatan. Suatu sketsa masyarakat plural pada masa kolonial dengan orang Belanda di puncak piramida, Tionghoa dan Arab di tengah, serta pribumi paling bawah.

Sebuah lukisan trem berbendera Belanda yang ditarik kuda di bawahnya. Karya rupa tersebut merekam awal transportasi publik di Jakarta --waktu itu masih bernama Batavia-- pada 1869. 80 tahun kemudian, Chairil Anwar menulis sajak terakhirnya, "Aku Berkisar Antara Mereka: "Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota/ yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa. Penyair Indonesia yang terkenal dengan sajak "Aku ini mengibaratkan moda transportasi bagai gigi yang mengunyah masa. Waktu yang digambarkan berlipat dalam pameran yang dikurasi arsitek sekaligus penyair, Avianti Armand. Dari trem berkuda, trem uap, trem listrik, kereta, bus, busway, Light Rail Transit (LRT), hingga Mass Rapid Transit (MRT) berseliweran di sepanjang perjalanan sejarah transportasi publik di Jakarta.

"Gigi masa yang meninggalkan angkutan lain yang kini tinggal cerita dalam pameran ini, dari becak, bus pasar, sampai kereta Jabodetabek yang dinaiki penumpang sampai ke atapnya. Rencana Induk Jakarta 1965-1985 yang ikut dipamerkan cover-nya, menandai kutipan Gubernur Ali Sadikin yang memimpin Jakarta pada 1966-1977. "Mengurus transportasi Jakarta tidak bisa dengan perasaan atau sekadar tambal sulam di jalan raya. Harus ada perhitungan teknis, rencana induk yang matang, dan kepastian hukum.
Perencanaan yang bukan hanya dibebankan kepada Jakarta di dinding pameran, tapi melibatkan pula kota-kota di sekelingnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi. Sebagaimana kutipan Direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI) 2009-2014, Ignasius Jonan, yang membenahi perkeretapian di negeri ini. "Kunci dari layanan transportasi massal modern di wilayah aglomerasi padat seperti Jabodetabek adalah menghilangkan batas-batas administratif. Kita tidak bisa lagi membuat perencanaan sendiri-sendiri secara terfragmentasi.

Kutipan menohok Gubernur DKI Jakarta 1997-2007, Sutiyoso, yang berlatar belakang militer tentang jalur busway yang sempat dimanfaatkan pejabat untuk menghindari kemacetan, ikut dipamerkan. "Kita harus sadis, harus ada satu jalur yang steril. Daripada orang naik Transjakarta, tapi lihat ada mobil yang bisa masuk busway, pasti orang-orang bawa mobil sendiri dan lebih memilih masuk busway.
Daratan Jakarta yang seluas 66.000 hektare menghadapi masalah berat urbanisasi, dari 2,9 juta jiwa pada 1966 naik hampir dua kali lipat menjadi 5,7 juta penduduk pada 1977. Tentu saja angkutan massal dibutuhkan, sehingga kajian transportasi disusun sejak 1980-an, bersamaan dengan pembangunan awal jalan tol lingkar luar dan revitalisasi sistem perkeretaapian. Pada 2001, sistem mobilitas terpadu melalui MRT serta Bus Rapid Transit (BRT) direncanakan. Kini keduanya telah melayani penduduk Jakarta yang mencapai 10 juta orang, atau 33 juta jiwa penduduk bila dihitung dengan aglomerasi Jabodetabek. Berkat Undang-undang No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, pemerintah daerah diberi kewenangan untuk membangun infrastruktur dan layanan kereta, serta mengintegrasikannya dengan moda transportasi lain. Kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang menyediakan akses transportasi, hunian, pendidikan, hingga rekreasi pun dibangun di Jakarta.

36 tablet menyemarakkan pameran ini, 30 di antaranya berupa video testimoni para penumpang transportasi umum. Pun enam proyektor yang dua di antaranya dapat disaksikan dari balik kaca ruang pameran. Pintu kaca ruang pameran dipakai pula buat judul pameran. Lima video simulasi berinvestasi di lima TOD yang dibuat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) juga ditayangkan di ruang teater. Berdampingan dengan video tentang UKH di big screen yang diproduksi Tim Media Pusat Data dan Informasi Perencanaan Pembangunan (Pusdatinrenbang), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta. Sepuluh foto tua koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta turut pula dipamerkan di selasar UKH, yang mendokumentasikan suasana jalan di sekitar Pasar Senen, Tanah Abang, Glodok, Pasar Baru, dan lain-lain. Sedangkan di ruang depan UKH, dipamerkan buku-buku hasil penelitian Pusat Riset dan Inovasi Daerah (PRID) Bappeda Provinsi DKI Jakarta beserta kolaboratornya seperti Tempo, Museum Arsitektur Indonesia, A.T. Kearney, dan sebagainya. Sebuah model pesawat Whitesky dengan sembilan baling-baling yang berputar berada di ujung pameran ini, sebagai prototipe kendaraan di Jakarta masa depan: taksi udara. Pameran ini terbuka untuk umum pada Senin-Jumat, 08.00-16.00 hingga 8 September 2026
