JRIE Forum Vol. 4 Dorong Kolaborasi Inovasi Wujudkan Hunian Jakarta Terjangkau, Layak, dan Berkelanjutan
Jakarta, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta melalui Pusat Riset dan Inovasi Daerah (PRID) menyelenggarakan Jakarta Research & Innovation Ecosystem (JRIE) Forum Vol. 4 tentang "Future Housing for Jakarta: Innovation for Affordable, Decent, and Sustainable Living" pada Selasa, 11 Agustus 2026 di Ruang Pola, Grha Ali Sadikin, Balai Kota DKI Jakarta.
JRIE Forum Vol. 4 Dorong Kolaborasi Inovasi untuk Wujudkan Hunian Jakarta yang Terjangkau, Layak, dan Berkelanjutan
JAKARTA – Penyediaan hunian yang terjangkau, layak, inklusif, dan berkelanjutan menjadi salah satu tantangan strategis pembangunan Jakarta. Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi, keterbatasan lahan, serta tingginya harga tanah dan biaya pembangunan membutuhkan pendekatan baru dalam menghadirkan hunian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga mendukung kualitas hidup dan keberlanjutan kota.
Menjawab tantangan tersebut, Pusat Riset dan Inovasi Daerah (PRID) Bappeda Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Jakarta Research & Innovation Ecosystem (JRIE) Forum Vol. 4 dengan tema “Future Housing for Jakarta: Innovation for Affordable, Decent, and Sustainable Living”, Selasa, 11 Agustus 2026, di Ruang Pola Bappeda, Grha Ali Sadikin, Balai Kota Jakarta.
JRIE Forum Vol. 4 menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan Problem Statement Owner (PSO) dari perangkat daerah dan BUMD dengan solution providers dari kalangan akademisi, peneliti, inovator, startup, sektor swasta, dan organisasi nonpemerintah. Melalui pendekatan Focus Group Discussion (FGD), forum diarahkan untuk mempertemukan persoalan nyata pembangunan dengan solusi berbasis riset dan inovasi yang berpotensi dikembangkan dan diimplementasikan di Jakarta.
Membangun Ekosistem Kolaborasi untuk Hunian Masa Depan
Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Maruhal Mangasi Tunas Sijabat, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan penyediaan hunian Jakarta.
Menurutnya, tantangan perumahan saat ini tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan penyediaan bangunan, tetapi perlu ditempatkan dalam konteks pembangunan kota yang layak huni, berkeadilan, berdaya saing, dan berkelanjutan. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih luas, mulai dari pengembangan kawasan dan hunian vertikal, integrasi dengan transportasi dan kawasan TOD, inovasi teknologi konstruksi dan material, hingga pemanfaatan data dan teknologi digital.
Melalui JRIE, kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi pemerintah diharapkan dapat dipertemukan secara lebih sistematis dengan kapasitas riset, teknologi, inovasi, dan model solusi yang dikembangkan oleh berbagai pihak. Forum ini juga diarahkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan use case, peluang kolaborasi, dan potensi pilot project yang dapat ditindaklanjuti bersama. Hal tersebut sejalan dengan tujuan JRIE Forum Vol. 4 untuk mengidentifikasi permasalahan strategis, menggali solusi inovatif, mendorong kolaborasi lintas sektor, serta menghasilkan use case dan potensi pilot project bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kekayaan Intelektual sebagai Bagian dari Ekosistem Inovasi
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan paparan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Provinsi DKI Jakarta, Baroto, mengenai pentingnya kekayaan intelektual (KI) dalam pengembangan riset dan inovasi.
Dalam paparannya, Baroto menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan menjadikan ide, kreativitas, dan hasil inovasi sebagai aset yang memiliki nilai hukum sekaligus ekonomi. Pelindungan KI mencakup berbagai bentuk kekayaan intelektual, antara lain merek, hak cipta, paten, indikasi geografis, desain industri, desain tata letak sirkuit terpadu, dan rahasia dagang.
Bagi ekosistem riset dan inovasi, pelindungan KI menjadi penting untuk memberikan kepastian hukum terhadap hasil karya dan inovasi, meningkatkan peluang komersialisasi, memperkuat daya saing, sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan inovasi. Pemahaman terhadap KI juga menjadi semakin relevan bagi akademisi, peneliti, inovator, maupun startup yang menghasilkan produk dan teknologi baru.
Perspektif tersebut memperkuat pesan bahwa ekosistem inovasi tidak hanya membutuhkan ruang untuk menghasilkan gagasan, tetapi juga dukungan terhadap aspek pelindungan, pemanfaatan, dan pengembangan nilai ekonomi dari inovasi yang dihasilkan.
Dari Permasalahan Perumahan menuju Inovasi Tata Kelola
Pada Sesi 1 bertema Urban Innovation Management for Affordable, Decent, and Sustainable Housing, perwakilan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta berperan sebagai PSO dengan menyampaikan berbagai tantangan strategis penyediaan hunian di Jakarta.
Berdasarkan data 2022–2025 yang dipaparkan, tercatat 618.867 kepala keluarga (KK), dengan 202.478 KK mengalami backlog perumahan dan 297.791 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang teridentifikasi pada 63 kelurahan. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan untuk memperkuat perencanaan, penyediaan, serta tata kelola perumahan yang lebih berbasis data dan mampu merespons keterbatasan ruang perkotaan.
Tantangan tersebut kemudian dipertemukan dengan perspektif dari kalangan akademisi, lembaga kajian perkotaan, dan pelaku inovasi.
Guru Besar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia memperkenalkan gagasan diversifikasi tipologi hunian melalui konsep Mini-Maisonet sebagai salah satu alternatif missing-middle housing. Konsep ini menawarkan hunian bertingkat rendah dengan skala yang tetap manusiawi dan dapat beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan keluarga multigenerasi serta aktivitas bekerja dari rumah.
Sementara itu, RUJAK Center for Urban Studies menawarkan perspektif bahwa solusi perumahan Jakarta tidak harus selalu ditempuh melalui ekspansi kawasan maupun pembangunan hunian berskala besar. Pendekatan seperti pemanfaatan lahan mikro, konsolidasi lahan, adaptive reuse, pembiayaan berbasis komunitas, serta integrasi hunian dengan kawasan TOD dapat menjadi bagian dari diversifikasi solusi perumahan perkotaan.
Dari sisi pengelolaan hunian, Klaster Pintar/iHome menekankan bahwa hunian yang layak dan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kualitas fisik bangunan. Tata kelola operasional menjadi faktor penting untuk memastikan aspek keamanan, kualitas layanan, kenyamanan, keadilan, dan kualitas lingkungan dapat dipelihara secara berkelanjutan.
Beragam perspektif tersebut menunjukkan bahwa inovasi perumahan Jakarta membutuhkan pendekatan yang multidimensi, dengan menghubungkan aspek tata ruang, tipologi hunian, pembiayaan, teknologi, tata kelola, serta kebutuhan masyarakat.
Mengintegrasikan Konstruksi, Teknologi, dan Pembiayaan
Pada Sesi 2 dengan tema Construction, Financing, and Technology for Affordable, Decent, and Sustainable Housing, Perumda Pembangunan Sarana Jaya hadir sebagai PSO untuk membahas tantangan pengembangan dan penyediaan hunian terjangkau melalui peran BUMD dalam ekosistem perumahan Jakarta.
Melalui pengembangan Hunian Terjangkau Milik (HTM), Sarana Jaya berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan mitra terkait dalam menyediakan hunian bagi masyarakat, termasuk masyarakat berpenghasilan rendah dan warga Jakarta yang belum memiliki rumah. Pengembangan tersebut antara lain mencakup 1.744 unit di Nuansa Pondok Kelapa dan Nuansa Cilangkap, sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap kepemilikan hunian.
Dari sisi riset dan teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sejumlah inovasi yang berpotensi mendukung pembangunan hunian yang terjangkau sekaligus berkelanjutan. Teknologi yang diperkenalkan mencakup bangunan tahan gempa, konsep Ecohouse/Zero Energy, beton geopolymer berbahan limbah industri, pemanfaatan limbah plastik bernilai ekonomi rendah untuk elemen struktur, serta teknologi beton struktural yang lebih ramah lingkungan dan mendukung infiltrasi air.
Sementara itu, MyECO memperkenalkan pendekatan AIoT-based Energy & Asset Management yang mengintegrasikan sensor, konektivitas, platform digital, analitik, otomasi, dan pelaporan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung efisiensi energi dan air, meningkatkan kenyamanan penghuni, menjaga keandalan layanan, serta membantu pengendalian biaya operasional aset hunian.
Dari perspektif pembiayaan, BTN menyoroti pentingnya membangun ekosistem perumahan yang menghubungkan pemerintah, pengembang, masyarakat, teknologi, serta prinsip ekonomi sirkular. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah integrasi pembiayaan perumahan dengan pengelolaan lingkungan melalui inisiatif “Bayar Angsuran KPR dengan Sampah” dan konsep “Rumah Rendah Emisi”.
Berbagai solusi tersebut memperlihatkan bahwa masa depan perumahan Jakarta membutuhkan integrasi antara inovasi konstruksi, teknologi, pengelolaan aset, pembiayaan, dan keberlanjutan lingkungan.
Dari Forum Menuju Implementasi
JRIE Forum Vol. 4 dirancang untuk mendorong agar hasil diskusi tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi yang dapat memberikan dampak nyata. Pendekatan FGD memungkinkan PSO menyampaikan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi, sementara solution providers menawarkan teknologi, hasil riset, model bisnis, maupun rekomendasi kebijakan yang relevan.
Sebagai tindak lanjut forum, Bappeda Provinsi DKI Jakarta melalui PRID akan memfasilitasi proses matchmaking dan pertemuan lanjutan antara PSO dengan calon solution providers yang memiliki kesesuaian solusi dengan kebutuhan pembangunan perumahan di Jakarta.
Kolaborasi lanjutan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi implementasi solusi berbasis riset dan inovasi, pengembangan kebijakan, kajian strategis, maupun inovasi tata kelola, termasuk melalui pengembangan use case dan pilot project.
Melalui JRIE, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat ekosistem yang mempertemukan pemerintah, BUMD, akademisi, lembaga riset, inovator, startup, sektor swasta, dan organisasi nonpemerintah dalam menjawab tantangan pembangunan perkotaan. Forum ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong kebijakan pembangunan yang semakin kolaboratif, inovatif, dan berbasis bukti.
Pada akhirnya, agenda “Future Housing for Jakarta” tidak hanya berbicara tentang bagaimana menyediakan lebih banyak hunian, tetapi bagaimana menghadirkan hunian yang terjangkau, layak, inklusif, aman, adaptif, dan berkelanjutan, serta memastikan solusi tersebut dapat tumbuh melalui kolaborasi antara pemerintah dan seluruh ekosistem riset dan inovasi Jakarta.