Image

Penduduk miskin di DKI Jakarta bertambah 118,6 ribu orang menjadi 480,86 ribu orang pada Maret 2020. Jumlah tersebut setara dengan 4,53 persen dari total penduduk di ibukota atau naik 1,11 % dibandingkan kondisi September 2019. Angka kemiskinan ini tertinggi dalam satu dekade terakhir dan bahkan hampir menyamai kondisi Jakarta 20 tahun lalu (4,96 persen).

Penambahan penduduk miskin pada periode ini disebabkan karena penurunan daya beli masyarakat yang dipengaruhi oleh kenaikan harga barang jasa dan kehilangan sumber pendapatan. Selama enam bulan terakhir, harga barang dan jasa naik 3,58% terutama harga bahan makanan, sebaliknya, pengeluaran rumah tangga pada kelompok 40 persen kebawah menurun.

Dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, bukan hanya terjadi peningkatan angka kemiskinan secara signifikan tetapi kondisi kemiskinan juga semakin buruk. Indeks kedalaman kemiskinan naik dari 0,397 (September 2019) menjadi 0,590 (Maret 2020) yang berarti jurang kemiskinan semakin dalam. Selain itu, indeks keparahan kemiskinan naik 0,042 poin dari 0,072 menjadi 0,114 yang berarti kesenjangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin parah.

Selain jumlah penduduk miskin yang meningkat, tingkat ketimpangan di DKI Jakarta juga meningkat. Indeks Gini naik dari 0,391 pada September 2019 menjadi 0,399 pada Maret 2020.

Tingginya peningkatan kemiskinan ini ditengarai karena jatuhnya kelompok hampir miskin pada periode lalu menjadi kategori miskin pada periode Maret 2020 ini. Faktor lainnya adalah adanya penurunan pengeluaran penduduk secara khusus yaitu pengeluaran pada kelompok rumah tangga 40 % kebawah sebesar 0,27 %, dari 17,52 % (September 2019) menjadi 17,25 % (Maret 2020). Pengeluaran konsumsi rumah tangga terkontraksi 0,18 % selama periode triwulan I tahun 2020. Di sisi lain, garis kemiskinan makanan tumbuh 3,15 % dari 451.918 (September 2019) menjadi 466.156 (Maret 2020).

Selain itu, rumah tangga miskin di Jakarta masih terjebak dalam perangkap demografi (demographic trap). Rumah tangga miskin tetap mengalami kesulitan ekonomi karena secara rata-rata kepala rumah tangga miskin harus menanggung 4-5 orang (rata-rata 4,89). Berbeda pada rumah tangga tidak miskin karena pendapatannya hanya digunakan untuk 3-4 orang (rata-rata 3,59).

Beratnya beban hidup yang harus ditanggung, memaksa kepala rumah tangga miskin lebih banyak yang bekerja serabutan di sektor jasa (75 %). Mereka yang masuk dalam kategori ini adalah para pekerja sektor informal diantaranya pengemudi online, pedagang makanan/minuman dan pelaku usaha UMKM.

Dengan tingkat pendidikan sangat rendah di mana sebagian besar (50 %) kepala rumah tangga miskin tidak memiliki ijazah SD/sederajat kebawah, sehingga peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih layak sulit dicapai.

Sumber Data : BPS DKI Jakarta

Comments

Jakarta Dalam Angka periode Triwulan I 2020
Pengunjung
  • Total Pengunjung